Guru, Perlu Membudayakan Menulis
Rekan guru dan
calon guru di mana saja berada
Kenyataan menunjukkan bahwa kita, guru masih tergolong minim terhadap produktivitas
karya ilmiah. Seharusnya dunia tulis menulis akrab dengan dunia guru dan
menjadi ciri khas keilmiahan seorang guru. Namun nyatanya belum banyak karya tulis
guru yang menjadi wacana keilmiahan.
Dalam kehidupan modern ini,
( Henry Guntur Tarigan, 1982; 4 ), ketrampilan menulis sangat dibutuhkan.
Kiranya tidaklah terlalu berlebihan bila kita katakan bahwa ketrampilan menulis
merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar.
Menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat/merekam, meyakinkan,
melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti
itu hanya dapat dicapai dengan baik apabila seseorang dapat menyusun pikirannya
dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan itu tergantung pada pikiran,
organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat yang baik dan teratur.
Di Negara maju, menulis
menjadi ciri masyarakat maju. Menurut Asep Syamsul M. Ramli, S.IP. ( 2005 : v
), Kemampuan menulis menjadi sesuatu yang dikejar. Dengan memiliki kemampuan
menulis, seseorang bukan saja dapat mendapatkan penghasilan ( honor ), sebagai
penghasilan sampingan atau bahkan utama ( berorientasi sebagai penulis),
melainkan juga dapat aktif sebagai ‘propagandis’, pembentuk opini umum lewat
tulisan-tulisannya, melakukan dakwah bil qolam, menyebarluaskan ilmu atau
pemikirannya, dan tentunya turut mewarnai muatan informasi media massa.
Walaupun demikian, angka ilmuwan dari kalangan guru hingga kini masih terlalu
rendah dibandingkan dengan ilmuwan dari kalangan lain.
Menurut Henry Margenau dkk.
dalam bukunya yang berjudul ‘Ilmuwan’ ( 1986;31) bahwa angka ilmuwan guru
paling kecil dibandingkan ilmuwan lainnya. Masyarakat ilmiah terdiri dari
pasukan teknikus dan insinyur, suatu divisi ilmuwan dan suatu resimen guru ilmu
pengetahuan alam di sekolah tinggi.
Daftar
berikut memperlihatkan perbandingan antara keempat kelompok ilmuwan tersebut
pada tahun 1970. Angkanya berubah-ubah dari tahun ke tahun. Jumlah pada tahun
1960 adalah 2,37 juta, telah tumbuh menjadi 2,7 juta pada tahun 1964 dan
menjadi 3 juta pada tahun 1970. Tetapi perbandingannya kurang lebih tetap. Data
yang di maksud adalah sebagai kerikut :
1. Teknikus : 1.000.000 (32.84 % )
2. Insinyur : 1.082.000 (35.53 % )
3. Ilmuwan : 612.000 (20.10 % )
4. Guru : 351.000 (11.53 % )
1. Teknikus : 1.000.000 (32.84 % )
2. Insinyur : 1.082.000 (35.53 % )
3. Ilmuwan : 612.000 (20.10 % )
4. Guru : 351.000 (11.53 % )
Angka di atas menunjukkan
jumlah masyarakat ilmiah di seluruh dunia. Betapa kecilnya angka ilmuwan guru
dibandingkan dengan ilmuwan di bidang lain. Itu pun terbatas di kalangan dosen
di perguruan tinggi. Apalagi jika kita tengok ilmuwan guru di negeri kita,
tentu angkanya lebih kecil lagi.
Bagi guru, menulis memiliki
arti penting berhubungan dengan tugas dan profesinya. Menulis ilmiah merupakan
unsur pendukung bagi pengembangan profesi guru yang memiliki angka kredit
seperti yang tercantum dalam buku panduan, Angka Kredit bagi Jabatan Guru.
Karya ilmiah yang dimaksud adalah ; karya ilmiah di bidang pendidikan, yang
berupa ; a) karya ilmiah hasil penelitian, survey dan atau evaluasi di bidang
pendidikan, b) karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan
sendiri dalam bidang pendidikan, c) makalah, d) tulisan ilmiah popular, e)
Prasaran, f) buku pelajaran atau modul, g) diktat pelajaran
Walaupun karya ilmiah
memiliki nilai / angka kredit yang dapat mengantarkan guru untuk dapat naik
golongan / pangkat, namun seolah hal itu tidak menjadikan daya tarik bagi guru.
Mengapa ? Karena, pertama; kempauan tulis-menulis guru sangat terbatas, kedua ;
penilaian yang terlalu ketat. Sekali pun guru yang basis pendidikannya sarjana
( S1 ) bahkan S2 masih banyak yang gagal membuat karya tulis ilmiah seperti
halnya laporan PTK.
Para guru merasa, betapa
sulitnya memperoleh poin dari karya ilmiah ini. Karena kemampuan guru yang
terbatas atau ketatnya penilaiannya, menjadikan guru enggan untuk mencoba
menulis, sehinga mereka beranggapan mengajukan PTK yang telah menyita waktu dan
tenaga, seperti halnya melakukan sesuatu yang sia-sia.
Guru mengemban tugas pokok
yaitu melaksanakan pembelajaran di sekolah yang ditugaskan kepadanya. Guru
mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan tugasnya itu. Guru mengetahui yang
sebenarnya kondisi di sekolahnya. Guru mengetahui tentang potensi dan kelemahan
yang ada di sekolahnya. Guru mengetahui sesuatu sebagai peluang atau ancaman.
Guru tahu apa yang baik untuk dilakukan bagi peserta didiknya.
Rekan guru dan
calon guru di mana saja berada
Kita, sebagai guru bisa memulai
menulis dengan menceritakan semua tugas kewajiban kita dalam berbagai bentuk
karangan, seperti halnya sebuah laporan. Laporan merupakan salah satu bentuk
dokumen yang memiliki beberapa variasi. Dari bentuk yang sederhana yang berupa
angka-angka sebagai suatu gambaran mengenai perkembangan suatu persoalan,
sampai kepada laporan yang terdiri dari beberapa jilid buku yang masing-masing
terdiri ratusan halaman. Selain itu ada pula yang berbentuk isian
formulir-formulir yang standar, ada yang berbentuk surat, ada pula yang
berbentuk buku. Semua itu bisa kita lakukan sebagai sebuah sarana belajar
menulis.
Tag :
Artikel
0 Komentar untuk "Guru, Perlu Membudayakan Menulis"
Mohon Anda berkenan meninggalkan komentar